Hasil Perkebunan di Indonesia Pertanian Modern

Hasil Perkebunan di Indonesia Pertanian Modern

Dikutip dari FAO (Food and Agriculture Organisation)

Selama empat tahun terakhir, Indonesia telah mengalami krisis multidimensi yang memengaruhi semua aspek manajemen pemerintah. Krisis ini telah diikuti oleh banyak reformasi kebijakan termasuk perubahan terbaru dalam undang-undang desentralisasi dan otonomi. Perubahan-perubahan ini memiliki implikasi untuk penggunaan dan pengelolaan sistem informasi sektor kehutanan dan juga telah menghadirkan masalah baru di lapangan. Sebagai akibat dari kurangnya perhatian dan terbatasnya dana dan sumber daya pemerintah, upaya serius belum dilakukan oleh Kementerian Keuangan tetapi lembaga terkait untuk mengatasi masalah ini.

Makalah ini merinci statistik nasional tentang hasil hutan di Indonesia dan dilakukan oleh konsultan bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan Indonesia dan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB. Laporan tersebut mengevaluasi statistik nasional yang ada tentang produk hutan dan menyajikan perbandingan set data produk hutan nasional saat ini dengan data FAO. Pekerjaan tersebut meliputi penelitian berbasis perpustakaan tentang pemantauan produk hutan dan sistem informasi, wawancara dengan orang-orang yang relevan di Kementerian Kehutanan, Dewan Pusat Statistik dan lembaga-lembaga lain yang terlibat.

Hasil Perkebunan kawasan hutan

hasil perkebunan indonesia 2020

 

Indonesia terletak di garis katulistiwa antara 110 ° Utara dan 140 ° Timur. Ini terdiri dari 17.508 pulau dengan luas total sekitar 1,9 juta km2 (190 juta ha). Berdasarkan harmonisasi dari rencana penggunaan hutan konsensus dan perencanaan tata ruang tingkat regional pada tahun 1999, total area hutan terdaftar adalah 120,35 juta ha (Dephut 2000). Kawasan hutan Indonesia terdiri dari 112,27 juta ha hutan permanen dan 8,08 juta ha kawasan hutan yang ditujukan untuk konversi menjadi penggunaan lahan lainnya. Hutan permanen adalah hutan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah sebagai ‘hutan’ apakah pohon ada atau tidak dan dengan demikian termasuk area yang ditakdirkan untuk penanaman atau regenerasi alami serta hutan yang ada. Hutan permanen mencakup sub-kategori berikut:

Hutan lindung, yang terdiri dari 33,52 juta ha, adalah hutan di daerah dengan karakteristik fisik tertentu yang menjamin perlindungan untuk mempertahankan fungsi-fungsi tertentu, terutama yang berkaitan dengan hidrologi dan konservasi tanah.

Hutan konservasi dan hutan lindung yang sepenuhnya dilindungi mencakup 20,50 juta ha. Mereka melayani tidak hanya untuk melindungi dan melestarikan sumber daya genetik dan sistem pendukung kehidupan tetapi juga untuk menyediakan bahan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan.

Hutan produksi

mencakup 58,25 juta ha dan ditujukan untuk eksploitasi kayu, rotan, getah dan hasil hutan lainnya. Hutan produksi dapat diklasifikasikan menjadi hutan terbatas (23,06 juta ha) dan hutan produksi permanen (35,20 juta ha). Hutan produksi terbatas ditujukan untuk pencegahan erosi tanah serta produksi kayu. Di bawah aturan kehutanan, pohon dengan diameter setinggi dada> 60 cm dapat ditebang sedangkan di hutan produksi permanen batas penebangan adalah 50 cm.

BACA  Drone dalam Forestry atau Pekerjaan Kehutanan

Produk Hasil Perkebunan Unggulan Indonesia

  • Tebu
  • Teh
  • Karet
  • Biji Kopi
  • Tembakau
  • Kelapa sawit

Hasil perkebunan tanaman tebu

Perkembangan Luas Panen Tebu di Indonesia Secara umum, luas panen tebu di Indonesia mengalami peningkatan sejak tahun 1980. Pada tahun 1980, luas panen tebu di Indonesia hanya seluas 316.063 ha. Luas ini kemudian meningkat sebesar 50,96% menjadi 477.123 ha pada tahun 2013 dan diperkirakan akan kembali meningkat menjadi sebesar 472.693 ha di tahun 2016. Peningkatan luas panen ini lebih disebabkan oleh adanya peningkatan pada luas panen tebu di Perkebunan Rakyat. Hal ini dikarenakan sebagian besar perkebunan tebu di Indonesia diusahakan oleh petani tebu rakyat. Sejak tahun 1980, rata-rata kontribusi perkebunan tebu rakyat mencapai 59,96%, tertinggi dibandingkan kontribusi dari perkebunan tebu milik perusahaan (PBN atau PBS).

Dalam rangka peningkatan produktivitas tebu, Kementan melalui Ditjen Perkebunan melaksanakan sejumlah strategi, meliputi pemantapan areal, rehabilitasi tanaman, penyediaan agro input berupa pupuk dan benih unggul, penyediaan sarana dan prasarana, peningkatan produktivitas lahan melalui penerapan standar teknis budidaya dan manajemen Tebang Muat dan Angkut (TMA), antisipasi perubahan iklim, serta penetapan harga.

Untuk pemantapan areal, Kementan mengembangkan strategi regrouping lahan, yaitu cara pengelolaan lahan tebu yang dimiliki petani dalam satu manajemen. Langkah ini diambil mengingat lahan petani saat ini tidak begitu luas. “Lahan petani yang kecil dan berdekatan akan dikelola bersama dalam satu koordinasi, yaitu ada petani, provider, dan pabrik gula. Dengan cara ini, petani tidak lagi berjalan sendiri,” papar Suwandi.

Kementan  memahami permasalahan petani yang masih dihadapkan pada keterbatasan alsintan. Untuk itu, Kementan mendukung program mekanisasi di lahan tebu rakyat. Mekanisasi di lahan tebu ini diharapkan meningkatkan efisiensi biaya garap dan waktu pengolahan lahan. “Bantuan mekanisasi diberikan kepada kelompok tani atau koperasi berbasis tebu berupa mesin pengolahan lahan tebu, mesin muat tebu, alat pemupukan, mesin tebang tebu seperti cane thumper dan mini harvester, serta alat angkut tebu (dump truck),” ungkapnya.

Langkah lain yang dilakukan Kementan adalah rehabilitasi tanaman dengan program penggantian bibit unggul atau bongkar ratoon. Anggaran bongkar ratoon dialokasikan untuk 15.000 hektar kebun rakyat dan dimasukkan dalam APBN-P Tahun 2017. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan produktivitas tebu hingga enam atau tujuh tahun ke depan.

Penggunaan benih-benih unggul juga akan meningkatkan rendemen tebu. Saat ini, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementan sedang menggenjot pengembangan benih-benih unggul untuk komoditas prioritas swasembada, salah satunya tebu. Dua tahun terakhir, Kementan sudah menghasilkan tebu dengan rendemen 12% dan sedang diteliti untuk menghasilkan tebu dengan rendemen 14%.

Peningkatan produktivitas dan produksi juga didorong melalui investasi pembangunan pabrik gula baru. Hinggat 2019 targetnya ada 11 pabrik gula baru terbangun. Sejak 2016, sudah ada 4 pabrik gula baru dari target tersebut yang rampung dibangun, yaitu di Blora, Lamongan, Lampung, dan Dompu.

BACA  Contoh inovasi pertanian modern drone sprayer indonesia

Hasil perkebunan tanaman teh

1. Cina       1,980,000
2. India       1,184,800
3. Kenia         445,105
4. Sri Lanka         338,032
7. Indonesia         132,000

Tabel diatas menjelaskan rangking produsen teh di dunia Indonesia saat ini adalah produsen teh terbesar ketujuh di dunia. Kendati begitu, karena prospek bisnis yang menguntungkan dari kelapa sawit, hasil produksi teh telah menurun di beberapa tahun terakhir karena beberapa perkebunan teh telah diubah menjadi perkebunan kelapa sawit, sementara perkebunan-perkebunan teh yang lain telah menghentikan produksi untuk memproduksi sayuran atau produk pertanian lain yang lebih menguntungkan. Meskipun ada penurunan luas lahan, jumlah produksi teh tetap relatif stabil. Hal ini mengindikasikan bahwa perkebunan-perkebunan teh yang tersisa menjadi lebih produktif.

Hampir setengah dari produksi teh Indonesia diekspor keluar negeri. Pasar ekspor utamanya adalah Rusia, Inggris, dan Pakistan. Teh Indonesia yang diekspor terutama berasal dari perkebunan-perkebunan besar di negara ini, baik yang dimiliki negara maupun swasta (biasanya menghasilkan teh bermutu tinggi atau premium), sementara mayoritas petani kecil lebih berorientasi kepada pasar domestik (karena teh yang dihasilkan berkualitas lebih rendah dan karenanya memiliki harga penjualan yang lebih murah). Petani-petani kecil ini, yang kebanyakan menggunakan teknologi lama dan metode-metode pertanian yang sederhana, biasanya tidak memiliki fasilitas pengolahan. Pasar domestik teh tidaklah besar, direfleksikan oleh tingkat konsumsi teh per kapita Indonesia yang rendah. Pada tahun 2014, penduduk Indonesia mengkonsumsi rata-rata 0,32 kilogram teh per orang per hari (rata-rata dunia adalah 0,57 kilogram in 2014, sementara Turki jelas merupakan pengkonsumsi terbesar dengan 7,54 kilogram).

Hasil perkebunan tanaman karet

Komoditas karet menjadi salah satu bagian yang penting dalam menopang perekonomian di Indonesia dari sektor perkebunan. Hal ini di tunjukan dari data statistik Indonesia Investiment, total ekspor karet yang mencapai 3,2 juta ton sekaligus menjadi negara pengekspor terbesar kedua di dunia setelah Thailand pada tahun 2014.

Komoditas karet memiliki manfaat dan kegunaan hampir di setiap aspek kehidupan manusia. Meskipun produk yang berbahan dasar karet terlihat sederhana, namun karet sangatlah berperan penting dalam membantu kegiatan aktifitas masyarakat sehari-hari.

Hasil perkebunan indonesia tanaman biji kopi

Kopi yang dijual di dunia biasanya adalah kombinasi dari biji yang dipanggang dari dua varietas pohon kopi: arabika dan robusta. Perbedaan di antara kedua varietas ini terutama terletak pada rasa dan tingkat kafeinnya. Biji arabika, lebih mahal di pasar dunia, memiliki rasa yang lebih mild dan memiliki kandungan kafein 70% lebih rendah dibandingkan dengan biji robusta.

BACA  Pertanian organik di indonesia kemajuan dan perbedaan nya dengan sintesis

Wilayah subtropis dan tropis merupakan lokasi yang baik untuk budidaya kopi. Oleh karena itu, negara-negara yang mendominasi produksi kopi dunia berada di wilayah Amerika Selatan, Afrika, dan Asia Tenggara.

Kopi adalah komoditi yang diperdagangkan di bursa-bursa komoditi dan futures, yang paling penting di London dan New York. Di bawah ini, terdapat dua tabel yang mengindikasikan lima negara produsen kopi utama dunia dan lima negara eksportir kopi utama dunia.

Hasil perkebunan indonesia tembakau

Perkembangan pertanian perkebunan di indonesia

Industri Hasil Tembakau (IHT) menjadi salah satu sektor manufaktur nasional yang strategis dan memiliki keterkaitan luas mulai dari hulu hingga hilir. Selain itu,berkontribusi besar dan berdampak luas terhadap aspek sosial, ekonomi, maupun pembangunan bangsa Indonesia selama ini

“IHT merupakan bagian sejarah bangsa dan budaya Indonesia, khususnya rokok kretek. Pasalnya, merupakan produk berbasis tembakau dan cengkeh yang menjadi warisan inovasi nenek moyang dan sudah mengakar secara turun temurun,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada acara Dialog dengan Karyawan Mitra Produksi Sigaret (MPS) dan Paguyuban Sampoerna Retail Community (SRC) di Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, disalin dari siaran resmi, di Jakarta.

Kementerian Perindustrian mencatat, total tenaga kerja yang diserap oleh sektor industri rokok sebanyak 5,98 juta orang, terdiri dari 4,28 juta adalah pekerja disektor manufaktur dan distribusi, serta sisanya 1,7 juta bekerja di sektor perkebunan. Pada tahun 2018, nilai ekspor rokok dan cerutu mencapai USD931,6 juta atau meningkat 2,98 persen dibanding 2017 sebesar USD 904,7 juta.

Hasil perkebunan indonesia sawit

Menurut data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, pada 2019, luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia diperkirakan telah menjadi 14,68 juta hektare, atau bertambah hampir 50 kali lipat. Bahkan bila mengacu pada data hasil rekonsiliasi perhitungan luas tutupan kelapa sawit nasional pada 2019, angkanya lebih besar lagi yakni 16,38 juta hektare.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, produksi kelapa sawit (minyak sawit dan inti sawit) 2018 adalah 48,68 juta ton, terdiri dari 40,57 juta ton minyak kelapa sawit (crude palm oil-CPO) dan 8,11 juta ton minyak inti sawit (palm kernel oil/PKO). Jumlah produksi tersebut berasal dari perkebunan sawit rakyat sebesar 16,8 juta ton (35%), perkebunan besar negara 2,49 juta ton (5%), dan perkebunan besar swasta 29,39 juta ton (60%). Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat, 70 persen dari produksi sawit 2018 dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan ekspor dan 30 persen sisanya untuk konsumsi dalam negeri. Nilai sumbangan devisa minyak kelapa sawit Indonesia sepanjang 2018 mencapai US$20,54 miliar atau setara Rp289 triliun.

 

Baca juga artikel penting lainya :

 

 

contoh inovasi pertanianpotensi pertanian di indonesia

8 hasil pertaniancontoh inovasi pertanian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.