Teknologi Pertanian Jepang dengan Sistem Vertical Farming di Perkantoran

Teknologi Pertanian Jepang dengan Sistem Vertical Farming

Teknologi Pertanian Jepang dengan Sistem Vertical Farming


Teknologi Pertanian Jepang dengan Sistem Vertical Farming di Perkantoran

Teknologi pertanian Jepang tidak jauh berbeda dengan teknologi pertanian yang biasa kita temui, melakukan pekerjaan menanam, menyiram, maupun membajak sawah menggunakan alat canggih. Tapi bagi sebagian kota besar seperti Tokyo–ibukota negara Jepang dengan populasi ± 9 juta penduduk, mau tidak mau harus mencari cara lain mengingat ketersediaan lahan yang mereka miliki mulai menipis. Jika tidak, maka kebutuhan pangan di negara tersebut terancam tidak stabil.

Salah satu contoh teknologi pertanian di Jepang yang dikerjakan di kota besar seperti Tokyo adalah menggunakan cara vertical farming. Sistem tersebut tidak jauh berbeda dengan sistem hidroponik, kegiatan menanam tanaman/sayuran yang tidak menggunakan media tanah. Mereka mengutamakan pemberian nutrisi terhadap akar tanaman yang dialiri menggunakan kabut. Beberapa pilihan tempat untuk melakukan vertical farming adalah balkon rumah, atap gedung, maupun di dalam ruangan. Biasanya vertical farming menggunakan rak panjang bertingkat dan dilakukan secara indoor.

 

Sistem aeroponic yang efektif dilakukan dalam ruangan (gambar : thejakartapost.com)

Sistem aeroponic yang efektif dilakukan dalam ruangan (gambar : thejakartapost.com)

Beberapa jenis sistem vertical farming yang populer di kalangan masyarakat adalah menggunakan sistem hidroponik, aeroponic, dan aquaponic. Artikel kali ini akan mengulas sistem aeroponic yang gencar dikerjakan di kota besar seperti Tokyo. Bahkan salah satu perusahaan besar di Jepang berhasil menyulap gedung kantor menjadi tempat bercocok tanam. Pengelolaan yang modern tidak hanya menghasilkan sayuran, buah, maupun tanaman yang bermutu, namun mempengaruhi lingkungan kerja yang lebih sehat dan berkualitas.

Vertical farming dengan sistem aeroponic adalah kegiatan menanam tanpa media tanah namun menggunakan media kabut. Tanaman yang menggantung akan disemprotkan kabut yang sudah tercampur dengan nutrisi. Estimasi waktu yang digunakan untuk pengabutan biasanya menghabiskan waktu tidak lebih dari 15 menit. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari kerusakan pada tanaman (layu).

Teknologi Pertanian Jepang dengan Sistem Vertical Farming di Perkantoran (Gambar : www.youtube.com)

Teknologi Pertanian Jepang dengan Sistem Vertical Farming di Perkantoran (Gambar : www.youtube.com)

Salah satu perusahaan besar di Tokyo bahkan sukses menghasilkan 1,000 kaki persegi tanaman padi yang dikelola di dalam kantor. Hasil panen tidak hanya didistribusikan untuk dijual saja, pegawai kantor pun berhak menerima hasilnya. Selain itu, lingkungan kantor yang menyediakan sebagian tempat untuk melakukan vertical farming turut mendorong pegawainya menikmati gaya hidup sehat. Beberapa jenis sayuran yang tergolong mudah dihasilkan dengan sistem tersebut adalah selada, kangkung dan bayam. Bagaimana? Apakah anda tertarik meniru teknologi pertanian Jepang model vertical farming di kantor / rumah anda?

BACA  Tiga Energi Baru Terbarukan Indonesia Yang Perlu Kamu Ketahui

EdukasiTeknologi Pertanian

teknologi modernteknologi pertanianteknologi pertanian modern

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.